link servis mikroskop

Berikut link servis mikroskop, terima kasih

Pengawetan hewan kering dengan cara /istilah taksidermi merupakan proses pengawetan dengan cara mengelurkan organ dalam dari hewan tersebut dan yang dibentuk adalah kulit dari hewan itu sendiri. Urutan proses pengawetan kering hewan dengan taksidermi ini sudah saya postingkan pada artikel di sini.

Pada kesempatan ini saya ingin berbagi kepada para pembaca blog saya yang sederhana ini mengenai teknis pengerjaan pengawetan hewan dengan cara pengeringan ini lebih detail disertai foto kegiatan yang pernah saya lakukan mudah-mudahan bermanfaat (foto-foto ini saya ambil kebetulan dapat job/order/terima jasa pengawetan hewan kering dari seseorang yang sangat menyayangi hewan tersebut. Hewan tersebut adalah seekor anjing yang sudah berusia 15 tahun (mati karena usia).

Berikut tahapan proses pengawetan hewan dengan cara pengeringan/taksidermi :
  1. Penangkapan/penentuan jenis hewan yang akan diawetkan. Tahapan ini terserah kepada kita, apa dan tujuan kita dengan pengawetan hewan. ini Tentunya bukan untuk eksploitasi atau tujuan yang tidak baik, kita harus tetap memperhatikan prinsip-prinsip/kelestarian alam/lingkungan. (Foto A atau Foto B)
  2. Pematian Hewan. Teknik pematian hewan ini berbeda tergantung jenis hewan apa yang akan kita matikan. Dalam proses pematian ini prinsipnya darah tidak keluar dari organ tubuh, dan dipastikan benar bahwa hewan tersebut benar-benar mati. Karena jangan sampai ketikan proses pengulitan berlangsung, hewan tersebut secara fisiologis belum mati. Istilah saya untuk kejadian tersebut adalah "menjolimi". (Contoh gambar proses pematian hewan di bawah artikel ini). (Foto B)
  3. Pengulitan (Skining). Tahapan ini adalah bagaimana caranya kita melepaskan kulit yang melekat pada otot/menempel pada daging hewan tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut tentunya kita harus dilengkapi dengan seperangkat alat bedah yang lengkap dan tajam sehingga proses pengulitan berjalan dengan baik (kilit terkuliti, tidak ada otot/daging yang menempel pada kulit). (Foto D,E, F)
  4. Pengawetan Kulit (Preserving). Pengawetan kulit ini penting dilakukan karena bisa menyebabkan bau busuk bila kita tidak benar-benar memahami tahapan ini. Setelah selesai pengulitan, kita lanjutkan dengan pengawetan kulit dengan cara memberi pengawet kulit (boric acid) yang ditaburkan ke seluruh kulit yang dikuliti (bagian dalam). Setelah itu untuk beberapa hari dikeringkan. Lama pengeringan tergantung jenis hewannya. (Foto G)
  5. To be continue.......................
Foto A



Foto B



Foto C



Foto D



Foto E



Foto F


Foto G

No.
Nama Kegiatan
Waktu dan Tempat
Penyelenggara/
Peserta

1.
Pelatihan/training Produksi laboratorium ”Bioplastik”
Lampung, 2004
FMIPA Universitas Lampung

2.
Pelatihan Pengelolaan dan Pengembangan Laboratorium IPA dalam rangka A1
Jakarta, 2005
Universitas Islam As-Syafi’iyah

3.
Manajemen Laboratorium Sekolah dan Training Produksi Laboratorium “Bioplastik”
Banten, 2007
SMP/SMA La Tansa Banten

4.
Diklat Pembuatan Awetan dengan Menggunakan Media Gliserin
Banten, 31 Januari 2009
SMP/SMA La Tansa Banten

5.
Seminar Nasional dan Temu Alumni “Pelatihan Pengawetan Hewan dan Tumbuhan
Bandung, 16 Juli 2009
Biologi FPMIPA UPI

6.




7.


8.




9.




10.
Kursus Singkat, Taksidermi
(per orang)



Pelatihan/training ”Bioplastik”


Pelatihan Bioplastik




Pelatihan Bioplastik dan Taksidermi




Biologi Universias Indonesia
Bandung,
Biologi UPI,
14 Januari 2010
Banten, 21 Maret 2010

Biologi UPI,
Oktober 2010
Biologi UPI,
21 Des '11

Mas Satria, Mahasiswa Jurusan Seni Rupa ITB



SMA Santa
Carolus Surabaya

SMA Nurul Fikri Boarding School



MGMP Guru IPA Kabupaten Bogor, Wil Barat dan Timur.
Biologi UPI

Bioplastik merupakan pengawetan spesimen hewan atau tumbuhan dalam blok resin untuk digunakan sebagai media/alat, baik itu untuk kepentingan pendidikan atau komersial tertentu ataupun tujuan tertentu

Teknik pengawetan hewan/tumbuhan dengan Bioplastik ini memiliki beberapa keunggulan antara lain : Kuat dan tahan lama, murah, menarik dan praktis dalam penyimpanan. Tapi teknik ini juga memiliki kelemahan yaitu objek asli tidak bisa disentuh/diraba (karena observasi hanya mengandalkan penglihatan saja).

Pengawetan dengan menggunakan poliester resin ini dapat dilakukan pada bahan segar, awetan kering, dan atau awetan basah. Pengawetan ini bisa untuk mengamati aspek morfologi, anatomi, jaringan, perbandingan, atau siklus hidupnya.

Alat dan Bahan yang Diperlukan

  1. Cetakan dari bahan stainles atau permukaan halus dan kuat, misalnya kaleng wadah bekas, tatakan.
  2. Gelas pengaduk dari plastik dan sendok pengaduknya
  3. Girinda dengan batunya/amplas dari nomor 100 sampai 1500
  4. Poliester resin
  5. Katalis (etil metil keton peroksid 50%)
  6. Styren
  7. Pengkilat permukaan (kit)
  8. Braso/san poly, pengkilap logam
  9. Compound kuning
  10. Kain halus
  11. Kikir tangan
  12. Detergen
  13. Bahan-bahan yang akan diawetkan dari hewan atau tumbuhan atau objek lainnya.
Cara Kerja

A. Persiapan 

Menentukkan bahan yang akan diawetkan (tumbuhan/hewan), kalau tumbuhan ada proses pengeringan, dan kalau hewan ada proses pematian spesimen serta pengeringan.
  1. Mematikan Spesimen
  2. Pengeringan Spesimen
  3. Pembuatan Label
  4. Pembuatan Cetakan
  5. Bahan/spesimen yang akan diawetkan, dipilih bentuk dan ukurannya
B. Penanaman dengan Resin (..B)
C. Penghalusan dan Pengkilapan

Perhatikan hewan kelompok A dan kelompok B di atas ...
Dari kedua gambar di atas sekilas nampak tidak bisa dibedakan mana hewan yang sudah diawetkan dan mana yang belum diawetkan. Kelompok hewan A adalah hewan yang masih hidup, sedangkan kelompok B hewan yang sudah diawetkan dengan proses yang disebut taksidemi.

Taksidermi merupakan istilah pengawetan untuk hewan pada umumnya, vertebrata pada khususnya, dan biasanya dilakukan terhdap hewan yang berukuran relatif besar dan hewan yang dapat dikuliti termasuk beberapa jenis reptil, burung, dan mammalia. Organ dalam dikeluarkan dan kemudian dibentuk kembali seperti bentuk asli ketika hewan tersebut hidup (dikuliti, hanya bagian kulit yang tersisa). Pengetahuan tentang kulit ini, sering dipakai sebagai bahan referensi untuk identifikasi hewan vertebrata, dan juga untuk menunjukkan bemacam-macam varietas yang terdapat di dalam species.

Dengan kata lain taksidermi merupakan pengetahuan tentang skinning (pengulitan), preserving (pengawetan kulit), stuffing (pembentukan), dan mounting/opzet/pajangan (penyimpanan sesuai kondisi waktu hidup).

A. Alat dan Bahan yang Diperlukan
  1. Bak bedah, misal dengan ukuran 50 x 50 cm, dengan tebal 2 cm
  2. Gunting, gillete, pincet,
  3. Alat-alat pembius (kapas, desicator/penyungkup)
  4. Kawat, jarum jahit, dan benang.
  5. Chloroform
  6. Kapuk/kapas
  7. Boraks/tepung tawas
  8. Formalin, dan
  9. Air
B. Urutan Proses Pembuatan Taksidermi
  1. Penangkapan/Penentuan/Pengumpulan spesimen
  2. Pematian Spesimen
  3. Skinning (pengulitan)
  4. Preserving (pengawetan kulit)
  5. Stuffing (pembentukan)
  6. Mounting /opzet/pajangan. Bila sudah kering, letakkan mereka sesuai dengan kebiasaan pada waktu hidupnya. Misalnya dalam posisi berdiri, duduk atau terbang untuk memperlihatkan tingkah laku hewan tadi di alam. Perhatikan beberapa contoh mounting seperti ini.
  7. Pemeliharaan. Pemeliharaan spesimen yang ditaksidermi dengan cara menghindarkan dimakan serangga. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menempatkan koleksi dalam tempat penyimpanan yang selalu bersih dan tidak lembab. Dapat juga dengan memberikan obat insektisida. Para- dichloro-benzena atau napthalin/kamper (kaper barus) ke dalam lemari atau kotak penyimpanan spesimen.

Proposal Pelatihan

PELATIHAN BERBAGAI KETERAMPILAN (LIFE SKILL) BIOLOGI

DALAM RANGKA MEMEBENTUK KECAKAPAN PERSONAL,

KECAKAPAN SOSIAL, KECAKAPAN INTELEKTUAL, DAN

KECAKAPAN VOKASIONAL UNTUK BEKERJA ATAU USAHA MANDIRI


A. PENDAHULUAN

Rendahnya mutu akademik pendidikan di Indonesia dan rendahnya mutu SDM, merupakan salah satu sebab Indonesia belum mampu memulihkan ekonominya yang terpuruk sejak krisis moneter tahun 1997. Reorientasi dari pendidikan yang cenderung verbalistis ke arah pendidikan berbasis kompetensi dan kecakapan hidup (life skill), yang dilaksanakan dengan pola manajemen pendidikan mutu berbasis sekolah (MPMBS), dalam payung undang-undang Sisdiknas 2003, merupakan upaya pemerinatah yang meyakinkan. Dan juga pemerintah berusaha terus untuk memperbaiki terus kurikulum tersebut dengan sekarang dikembangkannya Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP). Namun demikian kunci keberhasilannya terletak pada mutu kepemimpinan kepala sekolah sebagai orang nomor satu/pemegang kendali kebijakan pendidikan dan profesionalitas guru, sebagai promotor dan fasilitator pembelajaran siswa.


Mutu pendidikan Indonesia yang rendah tersebut bahkan dalam komparasi internasional, hendaknya dapat dijadikan bahan renungan bagi para pakar dan praktisi pendidikan dalam melaksanakan tugasnya. Peningkatan mutu pendidikan yang bermuara pada peningkatan kualitas SDM Indonesia merupakan upaya yang sangat penting dalam memulihkan ekonomi kita yang masih dalam keadaan terpuruk.


Prinsip penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dijelaskan pada pasal 4 ayat (2) sebagai pendidikan multi makna, yaitu proses pendidikan yang diselenggarakan dengan dengan berorientasi pada pemberdayaan, pembentukan watak dan kepribadian, serta berbagai kecakapan hidup”.


Prinsip penyelenggaraan kecakapan hidup ini belaku untuk semua jalur pendidikan, baik formal, non formal, maupun informal. Rincian dari pendidikan kecapakan hidup terdapat pada penjelasan UU Sisdiknas 2003 pasal 26 ayat (3) yaitu : “pendidikan kecakapan hidup (life skill) adalah pendidikan yang memberikan kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan intelektual, dan kecakapan vokasional untuk bekerja atau usaha mandiri”.

Tujuan Pendidikan dalam agama Islam, antara lain kepada meraka yang berhasil dalam pendidikan dan mampu meraih ilmu dalam iman dan takwanya, maka kepadanya Allah SWT berjanji untuk meningkatkan derajatnya seperti yang dijelaskan dalam Al-Mujaadalah bahwasanya : “…..Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramudan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (Q.S. 58:11).


Ayat-ayat di atas hanya sebagian kecil dari begitu banyak ayat-ayat suci Al-Quran yang menggambarkan profil manusia sebagai hasil pendidikan, namun demikian diharapkan ayat-ayat tersebut dapat memberikan gambaran dari tujuan pendidikan yang berorientasi pada pembentukan insan ulil albab yang kaaffah, yang memiliki iman dan takwa, menguasai IPTEK serta mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-sehar-hari, sehingga bermanfaat bagi dirinya, keluarga, bangsa, Negara dan agamanya (rahmatan lil alamin). Dengan kata lain perkataan hasil pendidikan adalah manusia muslim yang kaaffah yang memiliki iman, ilmu dan amal secara terintegrasi atau yang kompeten.


B. TUJUAN DAN MANFAAT KEGIATAN

Tujuan : Pelatihan keterampilan berbagai macam “Life Skill” ini bertujuan memberikan Pengetahuan dan keterampilan kepada siswa/siswi bagaimana cara mengawetkan spesimen baik hewan ataupun tumbuhan dalam Bioplastik,Herbarium (basah atau kering) dan Pewarnaan Tulang (untuk mengamati perkembangan tulang)

Manfaat : yang didapat dari pelatihan keterampilan ini adalah memberikan keterampilan nyata sebagai individu/pribadi, dan ini sejalan dengan konsep “kecakapan yang harus dimiliki siswa untuk dapat memperoleh kemampuan lain yang bersifat mendasar (kompetensi dasar) bagi suatu bidang keahlian tertentu.Disamping kecakapan proses, kecakapan hidup yang bersifat umum (general life skill) juga terdiri dari kecakapan personal dan kecakapan social”.


C. MATERI

1. Herbarium

2. Taksidermi

3. Bioplastik

4. Pewarnaan Tulang

5. Pembuatan Slide Preparat Mikroskop


D. JADWAL KEGIATAN

Disesuaiakan dengan paket pilihan pelatihan. (menyusul)


E. ANGGARAN BIAYA (terlampir)

F. PENUTUP

Demikian uraian singkat mengenai pelaksanaan pelatihan berbagai keterampilan (life skill) biologi yang kami sajikan semoga bisa memberikan sedikit gambaran bagaiamana berbagai keterampilam ini bisa dilakukan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan anak didik kita sehingga mereka dapat mengaktualisasikan semua potensi yang dimilikinya menjadi kemampuan, yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupannya sehari-hari di masyarakat luas.

Bagian akhir dari penjelasan ini kami memberikan penekanan bahwa materi ini adalah materi yang sangat potensial untuk dikembangkan karena bagi seorang enterpreneur/enterpreunership/kewirausahaan/ ini adalah suatu peluang besar dan sudah banyak yang membuktikan ini berhasil dengan baik. Sebagi umat muslim marilah kita mencontoh Muahammad Rasulullah SAW sebagai figur wirausaha islam, dan banyak sunahnya dalam kewiraswastaan (enterpreunership).

Bandung, 28 Oktober 2009

a.n. Team Instruktur

ttd

Sarna Suryana, S.Pd.



Lampiran Anggaran Biaya (Silahkan kontak lewat email....atau konfirmasi
lewat sms "sudah kirim email" untuk minta informasi Jasa Tarif Pelatihan.


ANEKA MAKHLUK HIDUP

TIAP HARI, terutama pada hari-hari libur, banyak orang yang terdorong oleh keinginan tahu, masuk ke kebun binatang yang terdapat di kota-kota besar di dunia ini. Mereka datang untuk melihat singa dan harimau, anjing laut dan singa laut, burung hantu dan burung elang, ular dan kura-kura. Yang juga menarik perhatian banyak orang ialah kebun raya. Di dalamnya dikumpulkan dan ditanam bermacam-macam tumbuhan hidup yang berasal dari berbagai-bagai tempat di seluruh dunia. Beberapa diantara tumbuhan-tumbuhan di kebun raya ini di tanam di tempat-tempat terbuka, lainnya dipelihara dalam rumah-rumah kaca yang besar.

Tentu saja, kita tidak usah bertempat tinggal di dekat kebun binatang/kebun raya, untuk dapat mempelajari aneka ragam makhluk hidup. Kita juga dapat pergi ke hutan, ke lapangan atau ke kolam untuk melihat rumput-rumput, semak-semak, dan pohon-pohon, ulat, kumbang dan cacing, burung kutilang, udang,, ular dan tikus. Juga di halaman rumah kita dapat menjumpai beratus-ratus macam tumbuhan dan hewan.

Apabila kita memperhatikan makhluk hidup dalam keadaan yang bagaimana saja, akhirnya kita akan memperoleh suatu gambaran mengenai keragaman yang terdapat diantara mereka. Bagi seorang pengunjung kebun binatang yang biasa datang pada hari Minggu, keanekaragaman itu mungkin hanya merupakan suatu gambaran yang singkat, lain tidak. Tetapi bagi mereka yang sudah menangkap arti ilmu pengetahuan, gambaran mengenai keanekaragaman makhluk hidup ini akan mendorong dan lebih membuka cakrawala pola pikir wawasan yang lebih luas lagi. Karena masih banyak ragam makhluk hidup daripada yang dapat dilihat dalam kebun binatang/kebun raya, yang akan menuntun sesorang betapa berjuta-juta jenis hewan atau tumbuhan yang tersebar di dunia ini, bahkan tidak tahu apakah jenis tersebut keragaman ataupun jumlahnya masih banyak atau tidak. Ini salah satu yang menjadi permasalahan mengapa kita perlu membuat pengawetan-pengawetan baik hewan ataupun tumbuhan dengan memperhatikan dan mematuhi prinsip-prinsip ekspolitasi, sehingga tidak menimbulkan suatu kerusakan/ketidakseimbangan lingkungan.

MENGAPA PERLU PENGAWETAN HEWAN DAN

TUMBUHAN ?

Sepeti yang telah dikemukakan sebelumnya, bahwa kita perlu/bisa membuat pengawetan hewan/tumbuhan antara lain karena :

A. Keperluan belajar/pendidikan/koleksi (penelitian botani, zoologi, sistematik, morfologi, penyebaran, dan disiplin ilmu yang lain).

B. Distribusi spesimen tertentu

C. Kemelimpahan tidak setiap waktu

D. Sebagai dokumen bukti-bukti kekayaan keanekaragaman (biodiversitas).

Dengan kata lain pengawetan hewan dan tumbuhan serta bagian-bagiannya diperlukan terutama untuk memenuhi kebutuhan masa yang akan datang, Tanpa adanya sistem pengawetan yang baik, hewan dan tumbuhan yang ditemukan dan dikoleksi dilapangan akan mengalami kerusakan, misalnya akibat pengerutan atau pembusukan.

PENGAWETAN TUMBUHAN DAN HEWAN

Pada bagian ini penulis tidak akan terfokus kepada pengertian klasifikasi, sejarah, batasan, masalah, atupun macam-macam klasifikasi makhluk hidup yang ada di muka bumi ini. Tapi pada bagian ini kita akan lebih menekankan kepada bagaimana teknik dan macam pengawetan khususnya untuk dunia hewan dan tumbuhan.

Sebagai gambaran, kita ketahui keanekaragaman yang ada di dunia ini sangat besar sekali, baik dalam bentuk, ukuran, struktur, fungsi dan yang lain. Untuk memudahkan mempelajari hewan dan tumbuhan yang sangat beraneka ragam dari sifat dan ciri yang ada pada hewan dan tumbuhan itu maka sadar atau tidak sadar manusia menggolong-golongkannya menurut kepentingannya masing-masing. Penggolongan ini didasarkan dari sifat dan ciri dari hewan dan tumbuhan itu sendiri dan akhirnya untuk mencari kesamaan sifat.

Walaupun demikian, kita tetap sedikit harus mengetahui beberapa sistem klasifikasi hewan atau tumbuhan agar ada kerangka tempat menggantungkan informasi-informasi tentang tingkatan organisasi dan kemungkinan kekerabatan berbagai jenis/tipe hewan dan tumbuhan.

Pengelompokkan dunia hewan menjadi 2 kelompok besar yaitu :

- Hewan tidak bertulang belakang (Invertebrata) : Hewan ini mulai dari Filum Protozoa, Porifera, Coelenterata, Platyhelimnthes, Nemathelminthes, Annelida, Mollusca, Echinodermata, dan Arthropoda.

- Hewan bertulang belakang (Vertebrata) : Pisces, Amphibia, Reptil, Aves, dan Mammalia.

Pengelompokkan/klasifikasi tumbuhan menurut August Wilhem Eichler (1839-1887) dalam Sudarsono (2005:30) mengumumkan suatu klasifikasi yang pengaruhnya sampai saat ini yaitu dia membagi dunia tumbuhan menjadi dua :

A. Cryptogamae, merupakan tumbuh-tumbuhan yang alat perkembangbiakannya tersembunyi, yang termasuk golongan ini adalah :

1. Thallophyta (Fungi dan Algae)

2. Bryophyta (Musci dan Hepaticae)

3. Pteridophyta (Equisitinae, Lycopodinae, Filicinae)

B. Phanerogamae, merupakan tumbuhan yang alat perkembangbiakannya tidak tersembunyi, meliputi :

1. Gymonospemae (tumbuhan biji terrbuka)

2. Angiospermae (tumbuhan biji tertutup)

MACAM-MACAM PENGAWETAN HEWAN DAN TUMBUHAN, ANTARA LAIN :

1. HERBARIUM

Istilah herbarium lebih dikenal untuk pengawetan tumbuhan. Herbarium adalah material tumbuhan yang telah diawetkan (disebut juga spesimen herbarium). Herbarium juga bisa berarti tempat dimana material-material tumbuhan yang telah diawetkan disimpan. Misalnya Herbarium Bandungense adalah herbarium kepunyaan Departemen Biologi FMIPA ITB di Bandung, sedangkan Herbarium Bogoriense adalah herbariumm kepunyaan Balitbang Botani, Puslitbang Biologi Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Bogor.

Menurut cara pengawetannya bisa dibedakan menjadi :

a. Herbarium kering, cara pengawetannya dengan dikeringkan.

b. Herbarium basah, cara pengawetan dengan disimpan dalam larutan pengawet seperti alkohol 70%, formalin 4 %, atau FAA (larutan yang terdiri dari formalin, alkohol, asam asetat glasial, dengan formula tertentu)

2. TAKSIDERMI

Dari kedua gambar di atas sekilas nampak tidak bisa dibedakan mana hewan yang sudah diawetkan dan mana yang belum diawetkan. Kelompok hewan A adalah hewan yang masih hidup, sedangkan kelompok B hewan yang sudah diawetkan dengan proses yang disebut taksidemi.

Taksidermi merupakan istilah pengawetan untuk hewan pada umumnya, vertebrata pada khususnya, dan biasanya dilakukan terhdap hewan yang berukuran relatif besar dan hewan yang dapat dikuliti termasuk beberapa jenis reptil, burung, dan mammalia. Organ dalam dikeluarkan dan kemudian dibentuk kembali seperti bentuk asli ketika hewan tersebut hidup (dikuliti, hanya bagian kulit yang tersisa). Pengetahuan tentang kulit ini, sering dipakai sebagai bahan referensi untuk identifikasi hewan vertebrata, dan juga untuk menunjukkan bemacam-macam varietas yang terdapat di dalam species.

Dengan kata lain taksidermi merupakan pengetahuan tentang skinning (pengulitan), preserving (pengawetan kulit), stuffing (pembentukan), dan mounting/opzet/pajangan (penyimpanan sesuai kondisi waktu hidup).

3. BIOPLASTIK

Bioplastik merupakan pengawetan spesimen hewan atau tumbuhan dalam blok resin untuk digunakan sebagai media/alat, baik itu untuk kepentingan pendidikan atau komersial tertentu ataupun tujuan tertentu

Teknik pengawetan hewan/tumbuhan dengan Bioplastik ini memiliki beberapa keunggulan antara lain : Kuat dan tahan lama, murah, menarik dan praktis dalam penyimpanan. Tapi teknik ini juga memiliki kelemahan yaitu objek asli tidak bisa disentuh/diraba (karena observasi hanya mengandalkan penglihatan saja).

Pengawetan dengan menggunakan poliester resin ini dapat dilakukan pada bahan segar, awetan kering, dan atau awetan basah. Pengawetan ini bisa untuk mengamati aspek morfologi, anatomi, jaringan, perbandingan, atau siklus hidupnya.

4. PEWARNAAN TULANG

Prinsip dari teknik pewarnaan ini adalah mewarnai bagian tulang vertebrata sehingga bisa dengan jelas membedakan tulang-tulang vertebrata secara khsusus, dan ini bisa digunakan untuk keperluan identifikasi ataupun determinasi vertebrarta secara umum.

Pengamatam terhadap pertumbuhan perkembangan tulang suatu hewan terkadang sulit kalau tanpa merusak hewan tersebut. Dengan ditemukannya metode pewarnaan tulang dan tulang rawan dengan tidak perlu merusak tubuh hewannya, merupakan sarana untuk penelitian keadaan dan perkembangan tulang.

Dengan hanya mewarnai tulang dan rawan saja, sedangkan yang lainnya bening maka kita bisa mengamati berbagai hal, diantaranya bentuk, perkembangan dan kecacatannya dari suatu hewan vertebrata pada tingkat perkembangan yang bervariasi.

Peranan Media Pembelajaran

Media mempunyai peranan yang cukup berarti dalam kegiatan belajar mengajar, diantaranya :

1. Mengatasi masalah keterbatasan ruang kelas

Seperti model misalnya, digunakan karena objek asli tidak mungkin dapat ditunjukkan di muka kelas. Misalnya karena terlalu besar, terlalu kecil, terlalu rumit, terlalu berat, terlalu berbahaya, dsb.


2. Mengatasi masalah letak geografis

Misalnya untuk daerah pegunungan yang jauh dari pantai, untuk memperlihatkan laut digunakan media film, kaset video.


3. Mengatasi gerak benda yang terlalu cepat (seperti kepakan sayap lebah) atau terlalu lambat (seperti proses mekarnya bunga), padahal geraknya ini yang jadi pusat perhatian. Kasulitan ini dapat diatasi dengan memutar rekaman film atau video yang diperlambat atau dipercepat.

Sumber :

Nuryani, dkk. (2003).Common Textbook “Strategri Belajar Mengajar Biologi”. Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI


;;

Search by Gooogle